Selasa, 05 November 2013

senyawa aromatik (naftalena)


Senyawa aromatik

Istilah senyawa aromatik sebelumnya dipakai untuk menggambarkan senyawa dengan aroma tertentu. Dalam kimia organik, istilah tersebut sekarang mempunyai arti sendiri, yaitu aromatik dipakai untuk menunjukkan jenis ikatan untuk senyawa tertentu. Umummya , walaupun ada kekecualian, senyawa aromatik adalah senyawa siklik yang digambarkan dengan rumus yang mengandung ikatan tunggal dan rangkap. Disini saya akan mencoba membahas salah satu senyawa aromatik yaitu naftalena.

Naftalena adalah hidrokarbon kristalin aromatik berbentuk padatan berwarna putih dengan rumus molekul C10H8 dan berbentuk dua cincin benzena yang bersatu. Senyawa ini bersifat volatil, mudah menguap walau dalam bentuk padatan. Uap yang dihasilkan bersifat mudah terbakar. Naftalena paling banyak dihasilkan dari destilasi tar batu bara, dan sedikit dari sisa fraksionasi minyak bumi.

Senyawa ini bersifat volatil, mudah menguap walau dalam bentuk padatan. Uap yang dihasilkan bersifat mudah terbakar. Naftalena paling banyak dihasilkan dari destilasi tar batu bara, dan sedikit dari sisa fraksionasi minyak bumi. Naftalena merupakan suatu bahan keras yang putih dengan bau tersendiri, dan ditemui secara alami dalam bahan bakar fosil seperti batu bara dan minyak.

    Naftalena adalah salah satu komponen yang termasuk benzena aromatik hidrokarbon, tetapitidak termasuk polisiklik. Naftalena memiliki kemiripan sifat yang memungkinkannya menjadi aditif bensin untuk meningkatkan angka oktan. Sifat-sifat tersebut antara lain: sifat pembakaran yang baik, mudah menguap sehingga tidak meninggalkan getah padat pada bagian-bagian mesin. Penggunaan Naftalena sebagai aditif memang belum terkenal karena masih dalam tahap penelitian. Sampai saat ini memang belum diketahui akibat buruk  penggunaan naftalena terhadap lingkungan dan kesehatan, namun ia relatif aman untuk digunakan. Satu molekul napthalena merupakan perpaduan dari sepasang cincin benzena. Naftalena merupakan salah satu jenis hidrokarbon polisiklik aromatik .
Naftalena digunakan sebagai reaksi intermediet dari berbagai reaksi kimia industri, seperti reaksi sulfonasi, polimerisasi, dan neutralisasi. Selain itu, naftalena juga berfungsi sebagai fumigan (kamper, dsb), surfaktan, dan sebagainya.

Permasalahan :
Dari artikel diatas, penggunaan naftalena sebagai bahan untuk fumigan/kamper. menurut anda adakah efek penggunaan naftalen terhadap kesehatan,jika ada mengapa itu bisa terjadi ?

5 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  2. menurut sumber yang saya dapat,
    Efek yang mungkin dari naftalena terhadap kesehatan

    Eksposur terhadap jumlah besar naftalena dapat mengakibatkan kerusakan pada sel darah,dan menyebabkan penyakit yang dikenal sebagai haemolytic anaemia. Penyakit ini telah diperhatikan pada orang tertentu, terutama anak-anak, setelah termakan kapur barus yang mengandung naftalena. Antara gejala yang mungkin terjadi setelah eksposur terhadap jumlah besar naftalena adalah lelah, hilang nafsu makan, mual, muntah dan diare. Kulit mungkin menjadi pucat atau kuning. Bayi yang baru lahir terutama menghadapi risiko sel darahnya rusak jika terpajan pada naftalena. Kerusakan terhadap sel darahnya melepaskansuatu produk (bilirubin) yang menyebabkan bayi tersebut menjadi kuning dan dalam kasus parah, mungkin mengakibatkan kerusakan otak. Ada orang yang lahir dengan penyakitlahir genetis (G6PD deficiency) yang menjadikannya lebih cenderung menderita akibatdari naftalena, maka gejala dapat diperhatikan setelah eksposur terhadap jumlah naftalenayang kecil pun.

    BalasHapus
  3. saya akan mencoba menambahkan dari permasalahan diatas.
    menurut saya naftalena adalah hidrokarbon kristalin aromatik berbentuk padatan berwarna putih dengan rumus molekul C10H8 dan berbentuk dua cincin benzena yang bersatu dan efek bagi kesehatan pada naftalena atau pengggunaan kapur barus ini adalah Bila keracunan terjadi akibat penelanan kapur barus , maka dapat terjadi iritasi saluran pencernaan dan mengakibatkan mual, muntah, dan diare. Bila terkena paparan melalui mata dapat terjadi radang, iritasi dan kemerahan pada mata. Selain itu kornea juga dapat mengalami kerusakan sehingga penglihatan korban menjadi kabur.

    BalasHapus
  4. Assalamu'alikum
    Nama : Ekin Dwi Arif Kurniawan
    Nim : A1C112011

    Saya setuju dengan jawaban nurul bahwa :
    Eksposur terhadap jumlah besar naftalena dapat mengakibatkan kerusakan pada sel darah, dan menyebabkan
    penyakit yang dikenal sebagai haemolytic anaemia. Penyakit ini telah diperhatikan pada orang tertentu,
    terutama anak-anak, setelah termakan kapur barus yang mengandung naftalena. Antara gejala yang mungkin
    terjadi setelah eksposur terhadap jumlah besar naftalena adalah lelah, hilang nafsu makan, mual, muntah dan
    diare. Kulit mungkin menjadi pucat atau kuning. Bayi yang baru lahir terutama menghadapi risiko sel darahnya
    rusak jika terpajan pada naftalena. Kerusakan terhadap sel darahnya melepaskan suatu produk (bilirubin) yang
    menyebabkan bayi tersebut menjadi kuning dan dalam kasus parah, mungkin mengakibatkan kerusakan otak.
    Ada orang yang lahir dengan penyakit lahir genetis (G6PD deficiency) yang menjadikannya lebih cenderung
    menderita akibat dari naftalena, maka gejala dapat diperhatikan setelah eksposur terhadap jumlah naftalena
    yang kecil pun. Jika mana-mana dari gejala ini terjadi setelah eksposur terhadap naftalena, Anda harus segera
    berjumpa dengan dokter. Tidak ada bukti langsung bahwa naftalena dapat mengakibatkan kanker pada
    manusia.

    BalasHapus
  5. Baiklah, saya akan mencoba menjawab pertanyaan Dhani. Menurut literature yang saya baca, kapur barus mengandung bahan aktif Naphthalene atau Paradichlorobenzene. Bahan kimia ini juga terdapat dalam pewangi kamar mandi (toilet bowl deodorizer). Kedua bahan kimia tersebut mengeluarkan bau yang kuat dan sulit untuk menghilangkannya. Satu butir kapur barus umumnya mengandung 250-500 mg naphthalene. Dan jumlah tersebut bagi seseorang yang mengidap kelainan/penyakit kekurangan enzim glukos-6-fosfat dehidrogenase (G-6-PD deficiency), naphthalene dapat menyebabkan hemolisis (pecahnya sel darah merah). Tertelan 1-2 gram naphthalene dapat menyebabkan letargi (tubuh menjadi lemah) dan kejang-kejang. Paradichlorobenzene memiliki toksisitas yang lebih rendah bila dibandingkan dengan naphthalene. Bila tertelan paradichlorobenzene hingga 20 gram, pada orang dewasa, masih dapat ditoleransi oleh tubuh. Di beberapa negara maju penggunaan Naphthalene telah lama ditinggalkan dan diganti dengan Paradichlorobenzene. Keracunan dari kedua racun ini dapat diketahui dari kesan bau bahan (anti ngengat) tersebut pada mulut dan muntahan korban. Bila keracunan terjadi akibat penelanan bahan ini, maka dapat terjadi iritasi saluran pencernaan dan mengakibatkan mual, muntah, dan diare. Bila terkena paparan melalui mata dapat terjadi radang, iritasi dan kemerahan pada mata. Selain itu kornea juga dapat mengalami kerusakan sehingga penglihatan korban menjadi kabur. Bila racun terpapar melalui kulit, dapat menyebabkan iritasi kulit, rasa panas, reaksi alergi dan ada rasa gatal-gatal.

    BalasHapus