Senin, 09 Desember 2013

alkohol dan fenol


METANOL 

metanol (metil alkohol) (CH3OH) merupakan cairan tidak berwarna dan merupakan cairan yang larut dalam air. Metanol bersifat racun, jika terminum dalam jumlah yang sangat kecil maupun melalui pernafasan kronis dari metanol dapat menyebabkan kebutaan.
Menurut sejarahnya, metanol disebut alkohol kayu. Sampai tahun 1923 alkohol ini didapat dari destilasi destruktif (destilasi tanpa udara) dari kayu keras. Sekarang, metanol didapat dari reduksi karbon monoksida.
                                            CO + 2H2 ® CH3OH
Dengan katalisator Cu, suhu 2600C,dan tekanan 100-150 atm.
Kebanyakan metanol yang diproduksi sekarang dipakai untuk sintesis formaldehida (H2C=O) dan zat kimia lainnya.
Dalam industri metanol diubah menjadi formaldehid atau digunakan untuk mensintesa bahan kimia lain. Metanol digunakan sebagai pelarut dan sebagai bahan bakar bersih. Metanol mungkin juga mempunyai kegunaan baru dalam bidang pertanian.
Pada awal tahun 1990-an Arthur Nonomura, seorang ilmuan yang menjadi petani, menemukan bahwa dalam kondisi panas menyemprotkan larutan cairan metanol pada beberapa tumbuhan dapat menggandakan tingkat pertumbuhannya dan mengurangi kebutuhan air hingga separuhnya. Nonomura menyadari bahwa pada saat-saat panas dipertanian beberapa tumbuhan menjadi layu. Berdasarkan risetnya sebagai ilmuwan ia menyemprot beberapa tumbuhan dengan larutan metanol yang sangat encer.
Tumbuhan yang disemprot tidak lagi layu dan tumbuh lebih besar pada tingkat yang lebih cepat daripada tumbuhan yang tidak disemprot. Akan tetapi metanol akan efektif dalam kondisi panas atau terkena sinar matahari dan untuk tumbuhan kapas, gandum, strawberi, melon dan mawar.
Kegunaanya dapat terlihat jelas, hasil tanaman lebih banyak dan lebih cepat, penggunaan air lebih efisien, dan tidak diperlukannya pestisida.
Tidak seperti alkohol pada minuman, metanol tetap beracun meskipun dalam jumlah kecil. Gejala keracunan metanol adalah kebutaan karena metanol menyerang syaraf penglihatan; juga dapat berakibat kematian.

Permasalahan :
Bagaimana cara kerja metanol sehingga dapat menyebabkan kebutaan ? jelaskan mengapa ini bisa terjadi.



3 komentar:

  1. Baiklah, saya akan mencoba menjawab pertanyaan saudara Dhani. Menurut literatur yang saya baca, fase-fase efek toksik yang bisa terjadi akibat paparan methanol, yaitu :
    1. Fase pertama adalah Penekanan sistem saraf pusat. Dapat terjadi dalam 30 menit- 2 jam, intoksikasi dapat terjadi dalam durasi yang lebih pendek daripada intoksikasi oleh metanol.
    2. Fase kedua adalah fase laten tanpa gejala, mengikuti depresi sistem saraf pusat. Dalam 48 jam setelah diminum, pasien mungkin belum menunjukkan tanda-tanda keracunan, walaupun gejalanya mungkin berbeda secara individual.
    3. Fase ketiga terjadi asidosis metabolik berat: pada fase ini metanol telah dimetabolisir menjadi asam format dan menyebabkan metabolik asidosis (meningkatnya keasaman darah), yang dapat menyebabkan mual, muntah, pusing, dan mungkin sudah mulai ada tanda-tanda gangguan penglihatan.
    4. Fase keempat adalah toksisitas pada mata, diikuti dengan kebutaan, koma, dan mungkin kematian: Gangguan visual/penglihatan umumnya terjadi pada 12-48 jam setelah minum, dan range-nya bervariasi, dari mulai tidak tahan cahaya (fotofobia), kabur atau berkabut, sampai kebutaan.
    Pada saat methanol teroksidasi menjadi formaldehyd dan asam formiat, terjadi peningkatan konversi dari NAD+ menjadi NADH. Kelebihan NADH akan menjadi asam laktat, sehingga terjadi acidosis yang diakibatkan oleh keracunan methanol. Hal tersebut menyebabkan terbentuk dan terakumulasinya asam formiat dan asam laktat. Sebagai akibatnya terjadi pengikatan perbedaan anion (perbedaan antara total kation dan total anion). Pada kondisi normal selisih perbedaan tersebut adalah 18 mmoles/L (dihitung dari [Na++K+]-[Cl-+HCO3-], selisih tersebut dapat meningkat dua kali atau lebih diatas normal pada kondisi keracunan methanol
    Semoga dapat membantu ^ ^

    BalasHapus
  2. Assalamu'alaikum
    Nama ": Ekin Dwi Arif K (A1C112011)

    Setau saya Pada awalnya orang yang mengalami keracunan metanol ini akan merasakan adanya gangguan yang terjadi pada saluran pencernaan seperti sakit perut, mual, dan muntah-muntah.

    Gejala tersebut kemudian dilanjutkan dengan adanya depresi pada susunan saraf pusat dan terlihat gejala-gejala yang sangat mirip dengan korban yang mengalami keracunan alkohol seperti sakit kepala, sakit otot, badan terasa lemah, kejang-kejang, dan lainnya. Dan apabila tak segera ditolong maka akan terjadi hal-hal sebagai berikut:

    Kerusakan saraf optik: Gejala-gejala yang dialami meliputi dilatasi pupil, penglihatan menjadi kabur, dan akhirnya kebutaan yang permanen.
    Gejala lain: mual, muntah, pernafasan menjadi lebih dalam dan lebih cepat, tekanan darah menurun, syok kemudian koma, dan akhirnya meninggal

    tetapi masalah mekanismenya saya kurang begitu tahu
    terimakasih :D

    BalasHapus
  3. Baiklah saya akan mencoba menjawab permasalahan anda (dhani windra) :
    Ahli Penyakit Dalam FK Unud Prof. Nyoman Dwi Sutanegara. Ia memaparkan saat masuk ke dalam tubuh, metanol dipecah kemudian aliran darah membawanya ke otak. Semua sistem yang ada dalam tubuh akan terganggu. Akibatnya, terjadi gangguan pada pernapasan, jantung, ginjal, dan hati. Parahnya, kata Pemilik RS Sari Dharma ini terjadi gangguan retinitis yakni mata akan mengalami kebutaan permanen.Menurutnya metanol menghasilkan produk racun yang mengakibatkan metabolisme tubuh sulit bereaksi dan dapat mengakibatkan kematian. Ia mengatakan tubuh memunyai toleransi terhadap efek etanol (etil alkohol). “Alkohol masih ditoleransi oleh tubuh. Biasanya dikeluarkan lewat air seni. Ini sangat berbeda dengan metanol. Ketika metanol masuk ke dalam tubuh, langsung terurai dan merusak otak,” jelasnya. Untuk menangani korban metanol biasanya dilakukan cuci darah atau hemodialisis. Sebelum teknik cuci darah ini diperkenalkan, ada tindakan disebut force diuresis yakni memberi banyak cairan lewat infus agar racun keluar lewat air seni. Namun, lanjut dia, sayangnya penderita datang dalam keadaan kritis yang mengakibatkan pertolongan sulit dilakukan. “Metanol butuh waktu satu hari untuk menimbulkan akibat sehingga ketika ada gangguan tidak akan pulih seperti sediakala,” paparnya. untuk keterangan lebih lanjut lihat halaman ini :

    http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2010/09/17/keracunan-fatal-akibat-menenggak-methanol-260234.html

    Metanol sangat mudah diserap oleh tubuh melalui berbagai rute pemberian (oral, inhalasi, topikal, dll). Di dalam hati (liver), metanol akan dioksidasi menjadi formaldehid (formalin) dengan bantuan enzim alcohol dehydrogenase dan kemudian dimetabolisir lebih lanjut menjadi asam format oleh enzim formaldehid dehidrogenase. Perubahan dari formaldehid menjadi asam format sangat cepat, dengan waktu-paro selama 1-2 menit, sehingga tidak sampai terjadi akumulasi formaldehid dalam tubuh. Asam format selanjutnya dapat diubah menjadi 10-formiltetrahidrofolat yang dapat dimetabolisir lebih lanjut menjadi karbon dioksida sebagai upaya detoksifikasi dari tubuh. Kecepatan perubahan asam format menjadi metabolitnya tergantung ketersediaan tetrahidrofolat dalam hati. Namun demikian, waktu paruh asam format di dalam tubuh cukup panjang, yaitu sampai 20-24 jam. Asam format inilah yang akan menyebabkan berbagai efek toksik pada tubuh.
    Ekskresi metanol dari tubuh relatif lambat, dengan waktu paruh (T1/2) selama 24 jam. Manusia lebih sensitif terhadap efek toksik metanol jika dibandingkan dengan hewan non primata. Keparahan toksisitas metanol lebih berkaitan dengan derajat kejadianmetabolik asidosis ketimbang konsentrasi metanolnya. Hal ini karena ketoksikan metanol ditentukan oleh kecepatan pembentukan asam format dalam tubuh dan kemampuan hati untuk mendetoksifikasinya. Minum metanol, walaupun dalam jumlah sedikit, dapat berbahaya dan menyebabkan gangguan kesehatan serius, meliputikoma, kejang, dan kebutaan, bahkan kematian. Metanol juga toksik/beracun jika dihirup atau terkena mata, karena dapat merusak penglihatan.
    Fase pertama adalah Penekanan sistem saraf pusat. Dapat terjadi dalam 30 menit- 2 jam, intoksikasi dapat terjadi dalam durasi yang lebih pendek daripada intoksikasi oleh etanol

    Fase kedua adalah fase laten tanpa gejala, mengikuti depresi sistem saraf pusat :Dalam 48 jam setelah diminum, pasien mungkin belum menunjukkan tanda-tanda keracunan, walaupun gejalanya mungkin berbeda secara individual.

    Fase ketiga terjadi asidosis metabolik berat: pada fase ini metanol telah dimetabolisir menjadi asam format dan menyebabkan metabolik asidosis (meningkatnya keasaman darah), yang dapat menyebabkan mual, muntah, pusing, dan mungkin sudah mulai ada tanda-tanda gangguan penglihatan.

    Fase keempat adalah toksisitas pada mata, diikuti dengan kebutaan, koma, dan mungkin kematian: Gangguan visual/penglihatan umumnya terjadi pada 12-48 jam setelah minum, dan range-nya bervariasi, dari mulai tidak tahan cahaya (fotofobia), kabur atau berkabut, sampai kebutaan.

    BalasHapus